Thursday, February 12, 2015

10 Muwassafat Tarbiyyah Muslim

    10 Muwashafat Tarbiyah


      10 Muwasofat merupakan ciri-ciri utama pembinaan seorang kader dakwah. Dari detik pertama seseoarang itu menjejaki alam tarbiyyah, dia tidak dapat di pisahkan dengan pembinaan muwasofat-muwasofat ini sehingga dirinya terus di baluti oleh Islam yakni menjadi individu muslim yang unggul. Berikut merupakan sedikit pendetailan terhadap 10 Muwasofat. Berkata Iman Hassan Al-Banna ketika melalui marhalah ini 'Wajib ke atas setiap muslim memulakan dengan memperbaiki dirinya, kesempurnaan itu dapat dilihat bila ia telah dapat memiliki beberapa perkara yang meletakkan ia di peringkat tertentu yang menjadikan ia mampu untuk memikul tanggungjawab amal Islami'

      1. Salimul Aqidah

      Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan- ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam’ (QS 6:162). Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da’wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.

      2. Shahihul Ibadah

      Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul Saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: ’shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.’ Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

      3. Matinul Khuluq

      Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setkal muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al- Qur’an, Allah berfirman yang artinya: ‘Dan sesungguhnya kamu benar- benar memiliki akhlak yang agung’ (QS 68:4).

      4. Qowiyyul Jismi

      Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk- bentuk perjuangan lainnya. Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang artinya: ‘Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah’ (HR. Muslim).

      5. Mutsaqqoful Fikri

      Intelek dalam berpikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur’an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia antuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: ‘pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219). Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktivitas berpikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatka pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu. Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: Katakanlah:samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).

      6. Mujahadatun Linafsihi

      Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatun linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setkal diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beragmana seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).

      7. Harishun ‘ala Waqtihi

      Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya. Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, Yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan:

      ‘Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.’ Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

      8. Munazhzhamun fi Syu’unihi

      Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. Dengan kata lain, suatu udusán dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya kontinyuitas dan berbasih ilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.

      9. Qodirun ‘alal Kasbi

      Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan mandiri (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena itu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur’an maupun hadits dan hal itu memilik keutamaan yang sangat tinggi. Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.

      10. Naafi’un Lighoirihi

      Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tirák mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan inilah, Rasulullah

      bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir). Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits, sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing.

      dari berbagai sumber.



Monday, February 9, 2015

FIRST TRIP TO PANGKIL

Tanjungpinang, 09 Februari 2015

#Tanjungpinang- Tanjung siambang; Dompak.

Pagi itu,setelah syuro YGE di Pusat Quran Indonesia (sekalian promosi, siapa tau ada yang sedang mencari tempat buat belajar al quran), kami bergegas ke “markas”, ada majlis murobbi. Sampai dzuhur, kelar. Niatnya langsung mau lanjut ke dompak, sedikit menunggu, soalnya kunci motor belum ditemukan saat itu. beberapa menit kemudian, ketemu. Meluncur! Setelah semuanya berkumpul di batu 8, perjalanan dilanjutkan. Jembatan satu, dua terlewati. Lanjut entah sampai beberapa bundaran dan sempat salah jalan, akhirnya sampai ketangjung siambang.


#Tanjung Siambang- Pangkil (Pompong; Laut)

Beberapa menit kami nyampe dujung pelabuhan, datanglah pompong yang akan mengantarkan kami ke pulau seberang. Ngeri- ngeri sedap pas diatas pompong. Kata “sesepuh“ yang sekaligus “guide” (peace kak nurul :D) kami waktu itu, ombak nya “sesuatu”. Bismillahi majreeha wamursaaha . Perjalanan dimulai. Gak basah, yang dirasa, laut waktu itu terlalu banyak tanjakan. Setengah jam, tiba!
Pangkil, Iam coming!!


#Pangkil

Harusnya diatas kujelaskan dulu hajat kami datang kesana. Hem, tapi yang jelas, walaupun saat itu kami rombongan (7 orang), kami bukan mau melamar dara ataupun bujang tanah seberang, karna kalo tujuan kami buat melamar pastilah akan berpencar setelah sampai. Hahaha.... lupakan!
Habis minum teh dan "say hello" seadanya, kami diajak sesepuh masuk kegedung serbaguna. Daaan, anak-anak sudah ramai dan menurut info yang didapat (dari ibu-ibu yang kebetulan nunggu kami) ternyata mereka juga sudah lama nungguin kami. Dibagi beberapa kelompok,dan Mentoring dimulaii..


#Mentoring

Nah, inilah tujuan kami kepangkil. M-E-N-T-O-R-I-N-G. Salut sama orang tua yang begitu peduli dengan perkembangan pengetahuan anak. Aku tak tau jelas semuanya dimulai dari mana, hingga ibu-ibu disana sepakat menjadikan mentoring sebagai kegiatan tambahan buat anak-anak.

Minggu itu memang sengaja ikut sesepuh yang sebelumnya sudah beberapa kali kesana buat mentoring juga. Akhirnya ketemu mereka, remaja- remaja yang bersemangat buat mentoring. Pertemuan kami tak terlalu lama. Semoga saja, pesan diakhir pertemuan sesepuh ke adek-adek selalu diingat.” insyaaAllah dalam beberapa waktukedepan, kita akan rutin dengan mentoring ini. Nah, kenapa kita mentoring? Mau keren, keche? (dibaca dengan bunyi huruf C dan H dengan jelas) ya, Kita mulai dengan mentoring”. #eaakkkk.
Selesai! Metoring ditutup, siap-siap ashar. Sebelum kembali kepinang, kami menikmati jamuan makan yang sudah dibuat.

Alhamdulillah, special sekali mentoringnya.
Jam setengah lima kami pamit. Daaan, perjalanan dilaut lagiiiii :D

#Pangkil- Tanjungsiambang

Pulang agak beda dengan pergi. Kata temen, kalo pergi tadi ngikuti arah, sekarang melawan arah (mungkina arah angin). Benar saja! Ombaknya luar biasa. Hemm.. Semua ciptaan Allah bertasbih, gunung-gunung, batu, pohonbahkanair dilautan. Begitupun ombak itu.

Tiba ditanjungsiambang, aku basah (walau cuma sebelah).! Alhamdulillah, selamat. Tujuan kearah motor dan kami kembali ketujuan masing-masing.
Berharap, masih diberi kesempatan dan kelapangan waktu untuk kembali silaturrahim kesana lagi.

Monday, February 2, 2015

Tentang Hati (Tadzkiyatun Nafs)


TAZKIYATUN NUFUS

TANJUNGPINANG, 25 JANUARI 2015

Ini tentang hati sobat, akan kusampaikan kepadamu yang kemarin belum berkesempatan hadir dikajian pagi itu. cekidot....

Tazkiytun nufus ataupun tazkiyatun nafs bisa diartikan dengan membersihkan jiwa atau pembersihan jiwa. Upaya kita untuk membersihkan hati atau jiwa kita dengan mengeluarkan segala bentuk kotoran- kotoran yang ada dalam diri kita kemudian ditambah dengan akhlak yang baik ataupun keutamaan- keutamaan lain yang mampu mendekatkan diri kepada Allah. Tazkiyatun nafs menjadi hal yang sangat penting untuk untuk diperhatikan, karna ia akan menentukan derajat seseorang. Sebab ia akan berhubungan langsung dengan hati. Dan hatilah yang menggerkkan segalanya.
Ketika fisik seseorang sakit, bisa saja kita pergi kedokter. Tapi, jika hati yang sakit maka upaya- upaya yang bisa dilakukan berupa:
  1. Terus- menerus melakukan Qiyamul Lail
Qiyamul lailmerupakan jalannya orang- orang shalih. Maka jika ingin menajdi orang yang shalih, lakukanlah qiyamul lail secara continue. Qiyamul lail merupakan sarana komunikasi seorang hamba dengan Rabbnya. Dikeutamaan yang lain bahwa Qiyamul lail juga shalat yang paling utama setelah shalat fardhu.. dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasullah Shallallahu alaihi wasalla pernah ditanya:”Shalat apakah yang paling utama setelah shalat fardhu (yang lima waktu)?”, beliau menjawab: ‘shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah (sunnah) ditengah malam (shalat tahajjud)”. –diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim-

  1. Tilawah Al Quran
Seperti halnya matahari dunia, Al Quran tidak member pengaruh kecuali kepada mereka yang membuka diri dibawah cahayanya. “Al quran tiada lain adalah peringatan bagi semesta alam, bagi siapa saja diantara kalian yang mau menempuh jalan lurus”. –At Takwir: 27-28-
Salah satu sebutan terpenting bagi Al Quran adalah “Ruh”. “Demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al Quran) dengan peringatan Kami”. –Asy Sura:52-
Al Quran itu bagi hatiseperti ruh bagi tubuh. Hanya saja tubuh pada akhirnya akan lenyap, sedangkan hati adalah tempat kita meraskan kehadiran Allah. Hati yang bersih membuat seseorang bisa bersikap lurus didunia dan menyelamatkan kelak diyaumil akhir.

  1. Berdzikir kepada Allah
Berdikir berarti mengingat Allah. Dzikir adalah bagian dari cara agar kita senantiasa istiqomah. Dengan dzikir kita akan merasa bahwa Allah selalu mengawasi kita.

  1. Sholat Dhuha
Sholat dhuha merupakan sholat sunnah yang mempunyai nilai tersendiri dimata Allah. Semakin sering melakukannya, maka hubungan kita dengan Allahpun akan semakin dekat. Wallahua’lam

Tuesday, December 23, 2014

Resume Tsawabit Al Mutghoyyirot

Bongkar Laptop buat ngerapiin data, ketemu tugas lama saat mau seleksi DM2 KAMMI KEPRI.
waktu itu tahun 2012. ya sudah, buat yang mau baca juga, silakan. semoga nambah referensi ilmunya.
cukup panjang sih...
buku ini karangan Jum'ah Amin

               Definisi Ats-Tsawabit


    • Tsawabit adalah perkara yang mesti bertahan terus tanpa perubahan atau penggantian sepanjang zaman dan disegala tempat.
    • Tsawabit pada agama atau madzhab apapun adalah penjaga aats keberlangsungannya yang menjadi karakter utama bagi utama individu-individunya dan menjadi penentu atas mereka. Secara aksiomatis, ia adalah ideology dan fondasi yang tidak bisa ditakwil, diganti, dan diubah, baik karena factor tempat, masa atau seseorang.

  1. Definisi Al-Mutaghyyirot
    • Mutaghoyyirot adalah perkara yang dimungkinkan dapat mengalami penggantian, perubahan, pentakwlian dan pengembangan.
    • Perubahan yang ada tidak membuat prinsip dan karakternya (perkara yang tidak dapat diutak-atik) hilang dan tidak dapat bertahan.
    • Merupakan persoalan murunah (keluwesan) karena perubahan waktu dan tempat memang membutuhkan keluwesan, penyesuaian dan pengakomodasian dengan tetap menjaga prinsip (Ats Tsawabit).

  2. Kombinasi Tsawabit dan Mutagoyyirot
    • Kombinasi antara Tsawabit dan Mutaghoyyirot menghasilkan kontinuitas tanpa kejumudan, penyesuaian tanpa penyimpangan, pembaharuan tanpa penyelewengan, pengembangan tanpa pemeretelan, dan pemurnian tanpa pengabaiann.
    • Keduuanya seperti dua sisi mata uang, satu sisi saja tidak berguna tanpa sisi yang lain.
    • Keberadaan Tsawabit dan Mutaghoyyirot secara bersamaan, adalah sebuah kemestian demi keberlangsungan tanpa kejumudan atau kebekuan.. tanpa kebersamaan itu kita akan jatuh dalam penggantian dan perubahan. Bahkan, ssecara perlahan-lahan kita akan menjurus ke penyimpangan.

  3. Tsawabit dan Muutaghoyyirot Islam
    • Tsawabit (Perkara-perkara tetap)
    Dalam setiap aspeknya, Islam memiliki banyak Tsawabit. Ia diwajibkan atas setiap muslim dann muslimah. Oleh karena Jama’ah Ikhwan adalah salah satu dari Jama’ah kaum muslimin, maka ia pun terikat dengan keseluruhan Tsawabit Islam dan berkomitmen dengannya sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Salaf dan Ahli Sunnah wal Jama’ah.

    • Al-Mutahhoyyirot (Perkara-perkara yang berubah)
    Ia adalah bidang garapan akal, pikiran, renungan, dan ijtihad dalam bingkai Tsawabit (perkara-perkara tetap) yang pasti.

  4. Pelajaran yang Bisa Dipetik
    • Seluruh jama’ah yang berafiliasi kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah haruslah bertemu dalam Tsawabit Islam.
    • Tiada satupun jama’ah yang keluar sendiri dari peerkara itu.
    • Tsawabit Islam menjadi patokan bersama-sama.

  5. Penjelasan Tsawabit wal Mutaghoyyirot
    • Ada sebagian kaum muslimin yang menganggap bahwa segala yang telah ada (dilakukan) generasi awal Islam adalah sesuatu yang final dan harus diikuti, hatta dalam model pakaian dan hal lain yang sebenarnya masuk dalam domain “umuriddunya”. Sebagian yang lain, merupakan lawan ekstrim dari golongan pertama, bahwa apapun yang ada dalam Islam bisa diubah seiring dengan perkembangan zaman. Tidak peduli apakah ia masalah muamalah maupun ibadah dan aqidah, semuanya bisa diubah mengikuti “semangat zaman”.
    • Pandangan seperti di atas bisa saja terjadi ketika seorang muslim tidak mengetahui Tsawabit dan mutaghayyirat dalam Islam. Mana hal-hal prinsip yang bersifat permanen, tidak boleh berubah. Dan mana hal-hal yang bersifat fleksibel, yang perlu dikembangkan dan dilakukan inovasi.   
    • Dalam hal dakwah dan harokah juga demikian. Termasuk ketika umat berbicara tentang gerakan dakwah Islam terbesar; Ikhwanul Muslimun. Saat harokah ini di berbagai belahan dunia melakukan transformasi dalam ‘bentuk lain’ yang ‘berbeda’ dari tampilannya pada zaman Hasan Al-Banna, banyak komentar yang menganggap bahwa Ikhwan tidak lagi berada dalam asholahnya. Terlebih ketika harokah ini di beberapa negara sering kali melakukan ‘manuver dakwah’ maka suara-suara itu lebih terdengar. Tidak hanya dari orang umum dan simpatisannya, bahkan sebagian kadernya juga ikut terbawa dalam pandangan ini.
      Sementara itu, tantangan dan problematika yang dihadapi harokah Islam sekarang berbeda dengan apa yang pernah dihadapinya dulu. Peluang yang terbuka juga tidak sama persis dengan apa yang sudah terjadi sebelumnya. Zaman dan tipologi manusia yang ada sekarang juga berbeda. Dengan argumentasi ini, ada juga kemudian yang mengusulkan bahwa ‘manuver dakwah’ harus lebih kencang dan bahkan menyangkut hal-hal yang sebenarnya prinsip juga menjadi berubah.
    • Maka, kehadiran buku Ats-Tsawabit Wal-Mutaghayyirat karya Jum’ah Amin ini menjadi cahaya terang yang bisa dijadikan referensi tentang Ikhwan, tidak hanya bagi kadernya tetapi juga bagi simpatisan dan umat Islam secara umum.   



  6. Sepuluh Tsawabit Da’wah
    • Nama Jama’ah adalah fikroh, aplikasi, sejarah dan loyalitas.
    • Amal Jama’I adalah sarana kami.
    • Tarbiyyah dan menolak kekkerasan adalah jalan kami.
    • Usroh adalah tempat asuhan tarbiyyah di kalangan kami.
    • Risalah ta’lim dan sepuluh rukun, khususnya ushul ‘isyrin (dua puluh prinsip) dan risalah ‘aqoid adalah dasar dan referensi ajaran kami.
    • Syumul (komprehensifitas) dan umum (universalitas) adalah dasar pandang kauum integral.
    • Syuro yang mengikat (mulzimah) menyelesaikan perbedaan di antara kami.
    • Menghormati peraturan dan lawaa-ih (rambu-rambu) adalah termasuk akhlaq bai’ah kami.
    • Hokum-hukum fiqih pilihan Jama’ah mengikat setiap anggota jama’ah.
    • Alllah sebagai ghoyah (tujuan utama) dalam setiap Tsawabit dan Mutaghoyyirot kami dan dalam setiap ucapan dan perbuatan kami.

  7. Sepuluh Tsawabit dalam Dakwah Ikhwanul Muslimun, yaitu:
    1. Nama Jama’ah tidak boleh berubah sebab ia merupakan cerminan fikrah, aplikasi, sejarah dan loyalitas.   
      Artinya, ketika disebutkan nama Ikhwanul Muslimun, maka akan segera tergambar sebuah jamaah dakwah dengan berbagai karakternya yang khas. Namun, ke-tsawabit-an nama ini hanya diperuntukkan bagi tandzim alamy (organisasi pusat). Adapun cabang-cabangnya di berbagai negara diperbolehkan menggunakan nama yang berbeda sesuai dengan kondisi sosial politik dan peluang serta kapasitas internal jamaah.   
    2. Beramal jama’i adalah kewajiban yang harus selalu menyatu dengan aktifis dakwahnya. Maka kader Ikhwan akan senantiasa bersama dengan jamaah baik keputusan jamaah sesuai dengan pendapatnya atau berbeda. Dan tentu saja karena jamaah ini adalah jamaah Islam maka segala keputusannya harus sesuai dengan konsep Islam dan amal jamainya pun dalam rangka penegakan Islam.   
    3. Jalan yang dilalui dalam upaya meraih cita-cita dan tujuannya adalah dengan tarbiyah. Meskipun pada saat yang sama juga ada dakwah struktural, perubahan sosial melalui gerakan massa, dan sebagainya, tarbiyah (pengkaderan) tetap menjadi langkah utama. Hal ini membawa implikasi meskipun suatu saat jamaah ini sudah memasuki ranah politik atau bahkan ranah negara, memiliki massa yang demikian banyak jumlahnya, ia tetap harus melalukan proses tarbiyah. Dengan tarbiyah itu ia menjaga dan mengembangkan kader yang sudah ada, dengan tarbiyah pula ia menambah jumlah kader itu.   
    4. Usrah adalah tempat asuhan tarbiyah. Meskipun wasailut tarbiyah (sarana-sarana tarbiyah) itu banyak, tetapi usrah tetap menjadi jiwa dari semua sarana yang ada. Meskipun sarana tarbiyah bisa berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi (misalnya dengan telekonferens dan taujih leave), usrah tidak boleh ditinggalkan. Ia menjadi benteng terakhir bagi tarbiyah, otak bagi amal jama’i, dan senjata utama dalam merealisasikan cita-cita.   
    5. Prinsip-prinsip jamaah, baik mengenai pemahaman aqidah, pemikiran, atau ideloginya bisa dirujuk dalam risalah ta’alim (khususnya ushul isyrin) dan risalah aqaid. Maka, bagi kadernya sangat diperlukan mempelajari risalah tersebut, sebab ia merupakan batasan dan arahan dalam memahami Islam. Jika batasan atau kaidah dalam risalah ini telah benar-benar dikuasai maka baru boleh baginya membaca referensi apapun dan tidak dikhawatirkan akan terkena syubhat dan ghazwul fikr dari pihak yang memusuhi Islam.   
    6. Bahwa Islam itu bersifat syumul (komprehensif) dan karenanya jamaah dakwah Islam juga harus bersifat komprehensif. Dari sini bisa diketahui kelemahan harokah Islam yang hanya mengkonsentrasikan diri pada salah satu aspek dalam Islam; aqidah saja atau politik saja, misalnya.   
    7. Syuro adalah pengikat bagi setiap ikhwah dalam memecahkan permasalahan dan menyelesaikan perbedaan.   
    8. Menghormati sistem dan peraturan jamaah adalah moralitas yang selayaknya dijunjung tinggi setiap ikhwah.   
    9. Pilihan fiqih yang telah ditetapkan oleh jamaah harus diikuti oleh anggota.
    10. Allah menjadi tujuan dalam setiap ucapan dan perbuatan.   

    Sekian, wassalam…..





Monday, December 22, 2014

Islam dan Pemuda

ini cerita singkat dari adek tingkat (zizah dan tia) yang baru ngikut TK1 FSMI Al Kautsar FE UMRAH yang kemarin sempat dikirimkannya melalui inboxku....
mari disimak

Kalo ngomongin pemuda, mau dipaksakan ataupun tidak yang selalu terbayangkan adalah sosok kuat dan cerdas. ow yeah... sangat ideal bukan? tapi begitulah. kami akan berhusnudzon. bukankah dalam haditsnya, Rasulullah bersabda: "Allah itu sesuia dengan persangkaan hambanya".
nah, kalo kami membayangkan seperti itu tentang pemuda, maka kami berharap begitulah sepantasnya pemuda hari ini. pemuda itu asset bangsa. jika pemuda hari ini tumbuh menjadi generasi generasi kuat, cerdas dan religius, maka tak menutup kemungkinan, bangsa ini dimasa yang akan datang menjadi bangsa yang paling keren. ‪#‎so‬ sweet
Islam dari segi bahasa dapat diartikan sebagai selamat dan sejahtera.sejahtera berarti kesempurnaan untuk selamat dan sejahtera didunia dan akhirat.
kita hubungkan keduanya:
kita adalah pemuda kita muslim. untuk mencapai tujuan diatas tadi, maka disinilah peran kita sebagai pemuda muslim tersebut akan membawa perubahan yang memiliki tugas pokok yakni, menjadi jembatan penghubung antara realita dan idealita yang semuanya ini akan diorientasikan hanya untuk Allah SWT.
pertanyaannya adalah bagaimana membentuk diri menjadi pemuda muslim?
jawaban sederhana kami sebagaimana status kami sebagai mahasiswa yang selalu menjadikan kampus sebagai rumah kedua kami
kami memulainya dari sini, Lembaga Dakwah Kampus. LDK ini adalah organisasi kemahasiswaan internal kampus. organisasi ini menjadikan islam sebagai basic pergerakannya. ‪#‎kita‬ bahas tentang LDK dilain waktu.
diakhir, marilah kita sebagai pemuda muslim semangat untuk menjadi generasi terbaik yang menjadikan islam sebagai minhajulhayah bersama LDK, bersama mentoring!!